eMAIL PAK ADRIANSYAH

Doa untuk Sekeranjang Tempe

Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah,
hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang
dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak
pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. "Jika
tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya.
.." demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang
bambu tempat tempe , dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia
letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh. Tempe yang akan
dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum
disatukan ikatan- ikatan putih kapas dari peragian. Tempe itu masih harus
menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini
pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang,
yang akan dia olah kembali menjadi tempe . Di tengah putus asa,
terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti
tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan,
dia baca doa. "Ya Allah, Engkau tahu
 kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti
menyayangi  hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah
kedelai ini menjadi tempe . Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku..."

Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya. Dengan tenang, dia
tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe . Dia rasakan hangat yang
menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya
gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe . Dan... dia kecewa.
Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh
kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin,
Allah pasti sedang "memproses" doanya. Dan
 tempe
 itu pasti akan jadi.
Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah
seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia
berdoa lagi. "Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu.
Engkau maha tahu,
 bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain
 berjualan tempe . Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku..."

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun
pembungkus tempe . Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar,
dia intip dari daun itu, dan... belum jadi. Kacang itu belum sepenuhnya
memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang tersebut. "Keajaiban
Tuhan akan datang... pasti," yakinnya. Dia pun berjalan ke pasar. Di
sepanjang perjalanan itu, dia yakin, "tangan" Tuhan tengah bekerja
untuk
mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia
 dia
memanjatkan doa...
 berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan
doanya. Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan
keranjang-keranjang itu. "Pasti sekarang telah jadi tempe !"
batinnya.

Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan...
 dia
terlonjak. Tempe itu masih tak ada
 perubahan. Masih sama seperti ketika
pertama kali dia buka di dapur tadi. Kecewa, aitmata menitiki keriput
pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa
Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku?
Demikian batinnya berkecamuk.

Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang
telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau
membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar...merasa sendirian.
Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya.

Airmatanya kian
 menitik. Terbayang esok dia tak dapat
 berjualan... esok dia
pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu
lalang, dan "teman-temannya" sesama penjual tempe di sisi kanan
dagangannya
yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah
laku. Kesedihannya mulai
 memuncak. Diingatnya, tak pernah dia
 mengalami
kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia
merasa cobaan itu terasa berat...Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan
menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro
baya, tengah tersenyum, memandangnya. "Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang
setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang
menjualnya. Ibu punya??" Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba
wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat
menadahkan tangan. "Ya Allah, saat ini aku
 tidak ingin tempe itu jadi.
Jangan engkau
 kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti
tadi, jangan jadikan tempe ..."

Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi.
"jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe ..." "Bagaimana Bu?
Apa ibu
menjual tempe setengah jadi?"
 tanya perempuan itu lagi.
 Kepanikan melandanya lagi.
"Duh Gusti... bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan
tempe ya?" ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun
pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca?? Di balik daun yang
hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama.
Belum jadi! "Alhamdulillah! "
pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.
Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. "Kok Ibu
aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?" "Oohh, bukan begitu, Bu.
Anak
saya, si Sulhanuddin,
 yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan
 tempe,
asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari
tempe yang belum jadi. Jadi,saat saya bawa besok, sampai sana masih layak
dimakan. Ohh ya, jadi semuanya berapa, Bu?"

Teman, ini kisah yang biasa bukan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita
 acap berdoa, dan "memaksakan"
 Allah memberikan apa yang menurut kita paling
cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa
diabaikan, merasa kecewa. padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok
untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sangat sempurna. Kisah sederhana
yang menarik, karena seringkali kita pun mengalami hal yg serupa. Di saat
kita tidak memahami ada hikmah di balik semua skenario yg Allah
takdirkan.
Iklan

Tentang ILYAS AFSOH

SURABAYA NLP HIPNOTIS HIPNOTERAPI PUBLIC SPEAKING MOTIVATOR INTERNET MARKETING COACH
Pos ini dipublikasikan di motivasi dan tag . Tandai permalink.

8 Balasan ke eMAIL PAK ADRIANSYAH

  1. kucingkeren berkata:

    kisah menarik.. betul sekali, ALLAH maha tau apa yg terbaik untuk kita..

    Suka

  2. Newbie nich berkata:

    Tull pak Allah maha tau 🙂
    btw in kisah nyata yah?

    Suka

  3. cenya95 berkata:

    Allahu Akbar 3x Walillahhilhamd
    Taqobballahuminna waminkum Taqobbal ya karim.
    Selamat Iedul Fitri 1249 H.
    Mohon maaf lahir dan bathin.
    Semoga sukses

    Suka

  4. aziz berkata:

    wah, panjang banget…. tapi, saya cuma mau minta maap lahir dan batin soalnya jarang maen kesini….

    Suka

  5. enggink berkata:

    maaf lahir batin ya mas. klo ada komen2 yang tidak berkenan dari saya

    Suka

  6. mybenjeng berkata:

    met idul fitri, mhn maaf lhr batin ya…

    Suka

  7. thevemo berkata:

    sebuah kisah yang menarik

    jadi sadar,ternyata yang kita inginkan gak semua terkabul…karena Allah Maha Tahu

    Suka

  8. ILYAS ASIA berkata:

    sunnguh, pemberi koment di blog ilyas asia adalah pribadi yang hebat, bila tidak sekarang, NANTI

    Suka

KOMENTAR

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s