Aku ingin mendengarmu bercerita

aku ingin mendengarmu bercerita, bercerita tentang kita, kisah kita berdua. Kisah sebagai anak-anak yang periang, anak-anak desa Kecil ketika kita sama-sama tidak memiliki televisi, tidak punya radio, saat kita bisa jujur berkata bahwa emak kita menggoreng tempe pagi ini, dan sambal tomat atau kecap yang ditabur di atas nasi tim yang hangat.

.
titik pertama, aku ingin mendengarmu bercerita, tentang kisah kita di suatu padang menggembala kambing jawa yang tak seberapa bersama penggembala gibas dewasa di pinggir kali, kali kecil berupa sungai dengan air kecoklatan yang selalu saja Bapak marah bila ketahuan kita mandi di sungai. Bapak melarang kita,karena kita masih kecil, kita memang anak kecil yang tidak mengerti kekhawatiran (baca:kasih sayang) orangtua, bahwa kita bisa tenggelam di sungai tersebut.

..
titik kedua, aku ingin mendengarmu bercerita bahwa kita yang anak kecil dulu di bawah pohon randu sawah saling bicara entah apa sambil menunggui kambing kita yang tak seberapa jumlahnya,kambing yang kondisinya tak beda dengan penggembalanya, sama-sama kurus dan cacingan.

kau tahu apa yang aku suka  darimu, walau kita sering berebut mengejar layang-layang putus dan betapa seringnya kita tidak dapat karena kita bersaing dengan anak-anak yang lebih dewasa dan lebih besar badannya, lebih cepat larinya, aku mau kau menjawab dengan tepat pertanyaanku, apa yang aku suka darimu ?

Titik ketiga, aku mengingat betapa kita tidur-tiduran dengan gembira beralas rumput sawah, empuk dan kering, sesekali kita mengunyah rumput demi mengisi waktu, menunggu matahari senja memberi tanda pulang dengan senjanya yang memerah di atas pohon bambu di ujung desa sebelah.  Dan ketika senja datang, kita berlarian dengan konyol menggiring kambing ke dalam kandang, kandang yang berdekatan dengan tempat tidur kita.

usai mandi sore, kau pasti tahu kemana kita pergi. Pergi mengahbiskan sisa malam bersama Guru Ngaji, ya kita mengaji, belajar sholat, membaca dan menghafal Al-quran, membaca sholawat 100 kali, makan tumpeng kenduri tiap kamis, menghafal doa-doa, dan bercita-cita tinggi sekali.

cita-cita yang hanya berani diucapkan oleh bocah ndeso yang tidak pernah mengerti untuk apa cita-cita itu ada, bahkan terlalu berani bercita-bercita dengan menulis dengan huruf besar usai mendapat PR dari guru kelas satu SD tentang mengarang masa depan.

….

….

titik empat, aku ingin mendengarmu bercerita tentang pertengkaran kita berebut jambu biji di Rumah Emak Jannah,jambu biji merah yang sebenarnya tidak aku suka, aku hanya ikut-ikutan makan jambu merah bersama teman-teman yang aku sendiri tidak tahu apakah mereka juga suka makan jambu atau gengsi memakan jambu sebab semua anak makan jambu biji merah. Seingatku, aku lebih suka jambu biji putih yang terasa manis dan seger di lidah.

…..

Aku ingin mendengarmu bercerita
aku sekarang Tinggal di Semarang bersama anak kecil yang mendewasa yang kita sebut anak wadon, yang bila dewasa memiliki dada besar, dan kita bercanda membayangkan memegang dada itu, tetapi pikiran apakah itu, kan kita hanya anak kecil yang tidak pernah berani memegang dada wanita,

kita tidak melakukannya karena kita diajari menjadi anak baik.
Ayolah, aku ingin mendengarmu bercerita tentang polosnya kita, lugu dan ndesit bersama sarung kita yang kumal, sarung yang menunggu lebaran idul fitri untuk diganti, itupun jika Bapak memiliki hasil panen lombok jemprit yang bagus atau dengan menjual padi 4 sak dari lumbunng kecil di ujung dapur emak.

……………………………………………………………………………………………….

Mengenang Tenaru, Desa kecil kelahiranku bersama kawan-kawan kecil angon kambing
ILYAS AFSOH | 088 1296 3105 | 024 700 450 78 | Blogger Ndeso “Tenaru”

Iklan

Tentang ILYAS AFSOH

SURABAYA NLP HIPNOTIS HIPNOTERAPI PUBLIC SPEAKING MOTIVATOR INTERNET MARKETING COACH
Pos ini dipublikasikan di MENULIS dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Aku ingin mendengarmu bercerita

  1. achoey berkata:

    kau mengingat masa lalu dengan bijak
    sobat 🙂

    Suka

KOMENTAR

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s