Benarkah Anda Ingin Jadi Motivator?

Pertanyaan pada judul di atas tiba-tiba saja menghampiri saya, usai saya sholat isya. Saat ketika hendak merebahkan tubuh dan berfikir apa hikmah dibalik letusan gunung Kelud Kediri pada tanggal 13 Pebruari 2014 sekitar pukul 22.50 wib.

Kemudian saya mencoba menjawab dengan menuliskan pertanyaan di atas pada lembar putih ini. Dan jawaban saya,”Betul, saya ingin menjadi motivator?”

“Kenapa?”

“Karena saya….. ” jawaban saya terhenti, saya belum menemukan jawaban yang tepat dan sesuai dengan diri saya. Bahkan tulisan ini sempat terhenti beberapa saat. sampai ada pertanyaan selanjutnya yang datang sebagai berikut :

“Siapa tokoh yang kau kagumi, sehingga kau ingin jadi Motivator?”

Saya lagi-lagi tidak dapat menjawab dengan cepat, saya jawab pertanyaan di atas dengan balik bertanya kepada diri saya sendiri, “Kenapa malam ini, ada banyak pertanyaan yang datang tanpa diduga dan membongkar pola-pola pikir lama saya. Diantara kalimat yang berusaha mengemuka yaitu : “Bila memang kau itu motivator dan pendakwah, mengapa kau minta bayaran mahal?”

Setelah saya gunakan teknik part terapi, dan saya berdialog dengan diri saya, saya menemukan sebuah jawaban, “Karena dengan menjadi motivator itu merupakan panggilan jiwa saya, dihormati, ucapannya didengarkan dan dibayar mahal. jadi dengan dibayar mahal ini, yang akan menjadi sebab saya terbebas dari kerja keras dan selamat dari lubang kemiskinan, penderitaan, kelaparan.

Kemudian saya teliti satu per satu jawaban saya. Jawaban pertama motivator merupakan panggilan jiwa. Karena ini panggilan jiwa maka saya tidak dapat menolaknya, saya harus menjalankan misi saya sebagai motivator. Saya menyukai aktivitas berbagi pencerahan kepada banyak orang. Karena menurut believe saya, pekerjaan yang menjelma menjadi panggilan jiwa itu bukan pekerjaan, ada kenimatan, main-main dan bahagia plus terus bersemangat seolah tiada lelah.

Jawaban kedua: saya ingin dihormati.
Pelan-pelan saya tanya diri saya, kenapa saya ingin dihormati? Bukankah manusia itu sejatinya bukan apa-apa. Bukankah manusia itu toilet berjalan? Manusia itu berasal dari air sperma yang tiada berharga? Bukankah manusia yang mulia adalah yang paling bertaqwa di hadapan tuhannya?

Dari sini timbul kesadaran baru bahwa saya harus menjadi motivator yang bertaqwa, bukan karena ingin dihormati manusia. menjadi Motivator bertaqwa karena taqwa merupakan pribadi yang wajib dimiliki oleh motivator. Tanpa ketaqwaan maka motivator seperti bermuka dua, mampu bicara tanpa melakukan, mampu menasehatkan kebaikan sementara dirinya terjerumus di lembah dosa. Jadi alasan kedua yang benar yaitu pribadi bertaqwa, atau mungkin disebut juga karena saya sangat berkomitmen menjaid pribadi penuh Integritas.

Jawaban selanjutnya, “Ucapannya didengarkan.” Apabila dengan menjadi motivator maka ucapan saya didengarkan dan dipercayai orang? Apakah itu tujuan utama menjadi motivator? Lalu bagaimana dengan Nabi Muhammad manusia terbaik sepanjang zaman dan saat berdakwah justru ditertawakan oleh kaum bahkan pamannya sendiri tidak beriman pada Sang Nabi. Kedua pamannya bernama Abu jahal dan Abu lahab justru menjadi musuhnya.

“Lalu, saya harus bagaimana?” kembali saya bertanya kepada diri saya. Dan saya mendapat jawaban, “Setelah yakin motivator merupakan panggilan jiwa dan Anda menjadi pribadi bertaqwa [baca :berintegritas] maka tugas Anda : HANYA MENYAMPAIKAN. Urusan didengarkan, lalu diimani-dipercayai bahkan ditentang itu bukan urusan Anda, ingat Tugas Anda hanya menyampaikan.

Jawaban selanjutnya,”karena saya ingin dibayar mahal.”
Astagfirulllah. Tidakkah dirimu itu malu, para pendakwah dan penyeru kebaikan yang kita kenal dan mau kita contoh, bekerja hanya mengharap ridho Allah swt. Tidak mengharap bayaran.

“Bila saya tidak boleh mengharap bayaran, lalu saya harus bagaimana?”

“Begini wahai diriku, seandainya kamu minta bayaran mahal, apakah selalu dirimu dapat jobdab dibayar mahal?” “Berapa kali job yang gagal kamu Ambil karena kamu pilih-pilih job Mahal dan menolak job murah bahkan gratis. Apakah belum cukup bagimu Janji Allah, Bahwa setiap perbuatan baik dan jahat ada balasannya. Dan balasan tertinggi atas amal ikhlas manusia yaitu surga di akherat, kenapa  memilih bayaran yang sedikit di dunia ini?” Dan bukankah ketika kamu tidak mengharap bayaran yang besar, kamu malah mendapat hadiah-hadiah kejutan yang tidak diduga-duga bukan? [Baca rejeki yang tidak disangka-sangka].

“jadi saya harus bagaimana?”
” jadilah Motivator, dan biarkan Gusti Allah yang membayar dirimu. Jangan Mengatur Tuhan dengan mematok harga sekian-sekian dolar.”
“Kalau ada yang bertanya perihal harga?”
“Jelaskan saja, apa adanya?”
“Caranya?””Tanyakan, budgetnya berapa? Sudah siap dana berapa untuk mengundang Anda? dan ketika pengundang menyebutkan nomimal maka sampaikan, baiklah Anda siap memberikan materi sesuai dengan nomimal tersebut.”
“Apakah nanti malah terkesan tidak profesional?”

“APa arti profesional?” Profesional itu ketika Anda bekerja menjadi Motivator sebagai Panggilan Jiwa, berjiwa Taqwa [berintegritas], Tugasnya Menyampaikan, Bayaran minta Gusti Allah dan Anda ikhlas menerima besar kecil yang Anda terima dari gusti ALLAH yang dilewatkan manusia yang mengundang Anda menjadi Motivator.

Jawaban terakhir saya, “sebab saya terbebas dari kerja keras dan selamat dari lubang kemiskinan, penderitaan, kelaparan.
Maka segera diri saya memberi penjelasan sebagai berikut : Apabila Anda mencintai pekerjaan Anda dan menjadi penggilan jiwa maka tidak ada yang namanya terbebas dari bekerja keras, karena penuh cinta sebagai bukti pengabdian pada Tuhan maka Anda sangat bersemangat bekerja keras. Dan bila Anda bekerja keras dengan cerdas, ikhlas apakah Anda lupa bahwa Allah punya sifat Rahman-Rahim [Penuh Kasih sayang di dunia-akherat – dan berkasih sayang pada hamba-hamba pilihanNya di akherat kelak]. Bahkan Nabi pernah memberikan jaminan selama umatnya beriman dan bertqwa, berikhsan maka rejekinya sudah ditanggung ALLAH dan bebas dari derita kelaparan.

Demikianlah dialog diri saya dengan diri saya malam ini, Semoga ikut memberikan pencerahan kepada Anda yang membaca tulisan sederhana ini.  Dengan sebuah kesimpulan saat ini : saya komitmen  menjadi Motivator

  1. sebagai Panggilan Jiwa,
  2. berjiwa Taqwa [berintegritas],
  3. Tugasnya Menyampaikan,
  4. Bayaran minta Gusti Allah dan Anda ikhlas menerima besar kecil yang Anda terima dari gusti ALLAH yang dilewatkan manusia yang mengundang Anda menjadi Motivator.
  5. Percaya dengan Jaminan Rizki yang ditanggung oleh doa Nabi dan Sifat Allah yang Rahman-Rahim

ILYAS AFSOHTRAINER MOTIVATOR INDONESIA
PIN BB 317 35 22 E
088.1969.4320  | 0821.4150.2649
SMS 0896.1065.9643

Iklan

Tentang ILYAS AFSOH

SURABAYA NLP HIPNOTIS HIPNOTERAPI PUBLIC SPEAKING MOTIVATOR INTERNET MARKETING COACH
Pos ini dipublikasikan di 5 pilar mewujudkan impian dan tag , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Benarkah Anda Ingin Jadi Motivator?

  1. Assalallamu’alaikum wr,wb mas Ilyas…

    Alhamdulillah, saya sangat terkesan dengan monolog diri yang benar-benar mencerahkan. Bahkan siapa sahaja yang menyampaikan ilmu walau satu ayat, tetap digelar guru. Mudahan segala usaha dan cita-cita memandaikan orang lain akan mendapat ganjaran berlipat ganda dari Allah SWT. Ikhlaslah melakukannya. Aamiin.

    Salam sukses dan dimurahkan rezeki. 😀

    admin : terimakasih bunda

    Suka

  2. Ping balik: Motivator itu Omong Doang, Mana Prakteknya? | Trainer Motivator Indonesia

  3. Ping balik: Trainer Motivator Indonesia, kok tinggal di Semarang??? | Trainer Motivator Indonesia

  4. Ping balik: Training Of Trainer | Trainer Motivator Indonesia

KOMENTAR

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s