Apakah ketika Hari Raya Lebaran, kita wajib pulang kampung (Mudik)?

Pertanyaan ini menyeruak di sela-sela saya sedang menikmati liburan di Desa Tenaru Driyorejo Gresik Jawa Timur, tepatnya H-3 Lebaran idul fitri 1435 H (Juli 2014).  Saat ini saya sedang liburan penuh satu bulan dan menghabiskan puasa Ramadhan di desa kelahiran saya, saya tinggal di rumah Bapak dan Ibu. Saya liburan penuh bersama istri dan dua anak saya- Hadil dan Aufa.

Mengapa Mudik (pulang kampung)?

Mungkin dengan pulang kampung, dapat melepaskan rasa rindu terhadap kampung halaman, kangen sahabat, saudara, orang tua, sekedar meninggalkan kepenatan aktivitas tinggal di kota Semarang, mencari inspirasi baru menulis buku, mendekatkan anak-anak dengan kakek-neneknya, dan menjadi refleksi diri bahwa moment lebaran diri sebagai muhasabah / instropeksi diri, dan titik tolak menjadi pribadi baru yang lebih baik di aspek spiritual, emosional, sosial, keluarga, finansial, entrepreneur, kesehatan.

Ketika saya berada di Desa Tenaru di tahun 2014 bulan juli ini bahwa kepala desanya ganti, terpampang di spanduk mmt balai desa bersama 2 orang dengan seragam polisi, satunya seragam TNI bertuliskan 3 pilar desa tenaru. Maka memori bawah sadar saya langsung merespon bahwa bukankah pilar sebuah desa atau negara itu ada empat? 1. Ulama (Ustadz, Kiyai),  2. Umara’ Pemimpin Wilayah yang Adil (Presiden sampai Kepala Desa), 3. Orang Kaya yang Dermawan dan, 4. Orang Miskin yang senantiasa berdoa.  Plus satu lagi pilar yang sangat penting yaitu para wanita yang berakhlak mulia (Sholihah).

Fakta bahwa perawan-perawan yang hamil diluar nikah di Tenaru atau perjaka yang menghamili gadis di desa lain merupakan sebuah indikator bahwa sendi-sendi atau pilar-pilar di Desa Tenaru perlu perbaikan di segala sisi, Tanpa menyalahkan para korban yang hamil di luar nikah, bagi saya ada sesuatu yang tidak berjalan dengan semestinya, dan harus ada tindakan agar hal tersebut tidak terulang kembali, agar masyarakat desa Tenaru menjadi masyarakat yang menjadi model dan inspirasi bagi masyarakat lainnya di Indonesia ini.

Masyarakat Desa Tenaru menjadi model yang menginspirasi masyarakat luas di Seluruh Indonesia merupakan sebuah impian saya, yang saya awali dengan menuliskannya di media blog sederhana ini. Saya percaya bahwa dengan hukum keselarasan alam maka pribadi-pribadi yang peduli dengan Tenaru akan datang dan menghubungi saya sehingga saya bersama beliau-beliau yang ikhlas dapat merumuskan tahap demi tahap tindakan yang harus diambil sehingga terwujud MODEL MASYARAKAT DESA YANG PENUH INSPIRASI dengan pilar-pilarnya secara utuh yaitu : ULAMA-UMARA-PENGUSAHA-PEKERJA di Tenaru.

Kabar baiknya,
Telah berdiri Pondok pesantren darul Falah 60 di Tenaru Kulon [Dusun Kelampok] yang diasuh oleh ustadz Yusuf dan Ustadzah Titik, di Tenaru Wetan ada Ustadz Zaidun (Alumni Ponpes Lirboyo)  dan Santri ustadz Zaidun. Semoga dengan adanya tokoh Ustadz di Tenaru menjadi pelengkap dan mengokohkan pilar pertama di Tenaru – yaitu Amar Makruf & Nahi Mungkar.  Harapan saya, semoga para Ustadz memiliki metode dakwah yang dapat mendekati dan diterima oleh semua lapisan warga masyarakat sebagaimana almarhu Ustadz Nurchasan yang mampu diterima oleh semua lapisan.

Saya berharap dengan metode dakwah yang diterapkan oleh ustadz dan dukungan segenap masyarakat dapat mencegah kejadian perawan hamil di luar nikah, mampu mencegah perzinaan, baik zina dari orang yang belum menikah, dan mampu mencegah zina yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah.

Dan pilar kedua yaitu kepada desa sebagai leader (pemimpin masyarakat), saya menunggu serangkaian tindakan dari kepala desa sebagai  seorang leader yang memberi contoh kepada bawahannya? Sebuah keteladanan yang menggugah hati warga masyarakat? Memajukan dan memakmukan desa Tenaru sehinga Tenaru menjadi desa Teladan Nasional di segala aspeknya. Saya pernah mendengar bahwa ada yang namanya desa wisata, ada kampung inggris, ada desa pengrajin, dan beragam macam desa lainnya yang dapat dijadikan model, dan salah satu kunci membuat desa Tenaru Unggul di bidang tertentu terletak pada Kepala Desa-nya.

Kenyataan bahwa di desa Tenaru, bermunculan para self employe atau pengusaha-pengusaha baru yang mampu menarik lapangan pekerjaan

(BERSAMBUNG)

ILYAS AFSOH | 0821 4150 2649 | WARGA DESA TENARU

 

Iklan

Tentang ILYAS AFSOH

SURABAYA NLP HIPNOTIS HIPNOTERAPI PUBLIC SPEAKING MOTIVATOR INTERNET MARKETING COACH
Pos ini dipublikasikan di 2 Inspirasi Menulis Buku dan tag , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Apakah ketika Hari Raya Lebaran, kita wajib pulang kampung (Mudik)?

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Ilyas…

    Kian Berlabuh Tirai Ramadhan,
    Lambaian Syawal Kian Di nanti,
    Luhur Hati Ikhlas Kemaafan,
    Semoga Kesalahan Mohon Dimaafi,

    Selamat Hari Raya Aidil Fitri
    Maaf Zahir Batin.
    Taqabbalallahu minna wa minkum

    Salam Syawal yang mulia dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    Suka

  2. Mudik kampung sekurangnya dapat merapatkan hubungan sesama keluarga dan taulan setelah lama berada di rantauan. Selain itu, dapat merapat silaturahmi dengan masyarakat setempat.

    Suka

  3. ysalma berkata:

    Mudik juga menjemput kenangan masa kecil saat lebaran,
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435H.

    Suka

  4. jhuanita tryaz berkata:

    Taqobalallahuminna wa minkum Shiyamana wa shiyamakum

    selamat hari raya idul fitri 1435H

    Suka

KOMENTAR

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s